Jakarta – Kenaikan harga kebutuhan pokok di Iran kembali menjadi sorotan setelah warga mengeluhkan lonjakan harga roti yang kini disebut mencapai hingga tiga kali lipat dari harga sebelumnya. Kondisi ini membuat masyarakat, terutama kalangan berpenghasilan rendah, semakin tertekan di tengah krisis ekonomi yang belum mereda.
Di sejumlah wilayah ibu kota Teheran, aktivitas perdagangan tetap berjalan seperti biasa. Namun di balik ramainya pasar dan toko-toko yang masih buka, banyak warga mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Seorang warga lanjut usia bernama Shahla mengungkapkan bahwa harga roti yang merupakan makanan pokok kini terasa semakin memberatkan. Ia menyebut, untuk mendapatkan sepotong roti, masyarakat harus mengeluarkan biaya yang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.
“Sekarang orang harus membayar sekitar tiga kali lipat hanya untuk roti,” keluhnya sambil menunjukkan belanjaan sederhana yang ia bawa. Ia menambahkan bahwa kondisi ini membuat masyarakat kecil harus benar-benar berhitung untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan harian.
Keluhan serupa juga muncul dari pedagang kecil. Mustafa, pemilik toko sepatu di Teheran, mengatakan bahwa daya beli masyarakat terus menurun. Menurutnya, pelanggan semakin jarang datang dibanding beberapa tahun lalu.
“Dulu toko ini ramai. Sekarang jauh lebih sepi,” ujarnya. Ia menilai, situasi ekonomi yang tidak stabil membuat banyak warga mengurangi pengeluaran, bahkan untuk kebutuhan non-mendesak.
Kenaikan harga bahan pokok di Iran sendiri tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam beberapa tahun terakhir, negara tersebut menghadapi tekanan ekonomi yang dipicu oleh inflasi tinggi, pelemahan mata uang nasional, serta dampak sanksi internasional yang membatasi akses perdagangan luar negeri. Kondisi ini membuat harga berbagai komoditas, termasuk bahan makanan, mengalami kenaikan berkelanjutan.
Sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa kebijakan ekonomi pemerintah dalam beberapa waktu terakhir turut memicu lonjakan harga, termasuk pengurangan subsidi pada beberapa kebutuhan impor. Dampaknya langsung terasa pada harga pangan di pasar domestik.
Di tengah situasi tersebut, kesenjangan sosial di masyarakat Iran semakin terlihat jelas. Di beberapa wilayah Teheran, warga masih dapat menikmati gaya hidup perkotaan dengan kafe dan pusat perbelanjaan yang ramai. Namun tidak jauh dari sana, warga lain harus berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar.
Bagi sebagian masyarakat, kondisi ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal harapan terhadap masa depan. Banyak yang menilai bahwa kestabilan harga dan peningkatan daya beli menjadi kebutuhan mendesak agar kehidupan sehari-hari tidak semakin sulit.
Hingga kini, warga berharap adanya langkah konkret dari pemerintah untuk menahan laju inflasi dan menstabilkan harga bahan pokok. Tanpa perbaikan kondisi ekonomi, beban masyarakat diperkirakan akan terus meningkat, terutama bagi mereka yang bergantung pada penghasilan harian.
Di tengah ketidakpastian tersebut, roti yang dahulu dianggap makanan sederhana kini menjadi simbol nyata dari tekanan ekonomi yang dirasakan banyak keluarga di Iran.



