Jakarta – Ali Larijani, salah satu figur penting dalam struktur keamanan Iran, dilaporkan meninggal dunia akibat serangan Israel. Kepergiannya menambah daftar tokoh elite Iran yang gugur di tengah konflik yang memanas. Lantas, seperti apa sosok Larijani?
Mengutip laporan Al Jazeera pada Rabu (18/3/2026), Larijani dikenal sebagai tokoh berpengaruh di Iran, terutama setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Larijani hanya beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pria berusia 67 tahun itu tewas dalam serangan di tengah eskalasi perang antara Iran melawan AS dan Israel.
Selain Larijani, media pemerintah Iran juga melaporkan gugurnya Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, pimpinan pasukan Basij. Sebelum kabar kematiannya, Larijani terakhir terlihat saat menghadiri parade Hari Al-Quds di Teheran pada Jumat (13/3/2026).
Ia menjadi pejabat tertinggi Iran yang tewas sejak kematian Khamenei pada hari pertama konflik, 28 Februari. Selama puluhan tahun, Larijani dikenal sebagai sosok yang tenang dan cenderung pragmatis. Ia bahkan menulis karya tentang filsuf Jerman Immanuel Kant serta pernah berperan dalam negosiasi nuklir dengan negara-negara Barat.
Namun, sikapnya berubah drastis setelah serangan yang menewaskan Khamenei. Dalam pernyataan publiknya, Larijani menyampaikan retorika keras terhadap Amerika Serikat dan Israel, serta menegaskan bahwa Iran akan membalas tindakan tersebut.
Ia juga menuding Presiden AS Donald Trump terjebak dalam pengaruh Israel. Dalam situasi krisis besar ini, Larijani berada di lingkar inti pengambil keputusan, termasuk dalam dewan transisi yang mengelola pemerintahan pasca wafatnya Khamenei.
Latar Belakang Keluarga Berpengaruh
Ali Larijani lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga terpandang asal Amol, Iran. Keluarganya memiliki pengaruh besar dalam politik dan keagamaan Iran, hingga pernah dijuluki sebagai “Keluarga Kennedy dari Iran” oleh majalah Time.
Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, merupakan ulama terkemuka. Sementara saudara-saudaranya juga menduduki posisi penting di berbagai lembaga strategis, termasuk peradilan dan Majelis Pakar.
Larijani memiliki hubungan erat dengan tokoh revolusi Iran. Ia menikah dengan Farideh Motahari, putri Morteza Motahhari, yang merupakan tokoh dekat pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.
Akademisi dengan Latar Filsafat dan Sains
Berbeda dari banyak pejabat Iran yang berlatar pendidikan keagamaan, Larijani memiliki dasar akademik yang kuat di bidang sains dan filsafat. Ia meraih gelar sarjana matematika dan ilmu komputer dari Universitas Teknologi Sharif pada 1979.
Kemudian, ia melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor dalam filsafat Barat di Universitas Teheran, dengan fokus pada pemikiran Immanuel Kant.
Kariernya di pemerintahan dimulai setelah Revolusi Iran 1979, ketika ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Ia kemudian menduduki berbagai posisi penting, termasuk Menteri Kebudayaan di era Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani serta kepala lembaga penyiaran nasional IRIB.
Sebagai pimpinan IRIB, kebijakannya sempat menuai kritik dari kalangan reformis yang menilai pendekatannya terlalu ketat.
Perjalanan Politik dan Peran Strategis
Larijani pernah mencalonkan diri sebagai presiden pada 2005, namun gagal melaju ke putaran berikutnya. Di tahun yang sama, ia dipercaya menjadi Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sekaligus negosiator nuklir utama Iran.
Ia mengundurkan diri pada 2007 setelah berbeda pandangan dengan Presiden Mahmoud Ahmadinejad terkait kebijakan nuklir. Setahun kemudian, ia terpilih sebagai anggota parlemen dari Qom dan kemudian menjabat Ketua Parlemen selama tiga periode (2008–2020).
Dalam kapasitas tersebut, Larijani berperan besar dalam mengesahkan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) antara Iran dan negara-negara besar dunia.
Setelah tidak lagi menjabat di parlemen, ia mencoba kembali maju dalam pemilihan presiden 2021 dan 2024, namun didiskualifikasi oleh Dewan Penjaga tanpa penjelasan rinci.
Pada Agustus 2025, Larijani kembali ke lingkar kekuasaan setelah ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi oleh Presiden Masoud Pezeshkian.
Dari Diplomasi ke Sikap Keras
Meski dikenal sebagai sosok yang pragmatis, terutama karena perannya dalam kesepakatan nuklir, sikap Larijani belakangan berubah lebih tegas. Ia sempat terlibat dalam komunikasi tidak langsung dengan Amerika Serikat melalui mediasi Oman.
Dalam pernyataannya, ia menyebut jalur diplomasi sebagai pendekatan rasional. Namun, situasi berubah drastis setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran.
Larijani kemudian menolak kemungkinan negosiasi dengan Washington dan mengeluarkan pernyataan keras, termasuk ancaman terhadap pasukan AS jika memasuki wilayah Iran.
Ia juga aktif menunjukkan solidaritas publik, termasuk dengan turun langsung dalam aksi Hari Al-Quds di Teheran di tengah serangan yang masih berlangsung.
Dalam pernyataan terakhirnya di media sosial, Larijani mengkritik negara-negara Muslim yang dianggap tidak bersuara terhadap konflik tersebut, mempertanyakan sikap mereka terhadap penderitaan sesama umat.
Warisan dan Pengaruh
Sepanjang kariernya, Ali Larijani dikenal sebagai figur yang memadukan pemikiran intelektual dengan kekuatan politik. Dari akademisi hingga pejabat tinggi negara, ia memainkan peran penting dalam berbagai fase penting Iran, mulai dari diplomasi hingga keamanan nasional.
Kepergiannya meninggalkan dampak besar dalam struktur kekuasaan Iran, terutama di tengah situasi konflik yang belum mereda.



