Jakarta -Sejumlah wilayah di Iran dilaporkan mengalami pemadaman listrik, termasuk di kawasan ibu kota Teheran, pada Minggu (29/3) waktu setempat. Kondisi ini terjadi setelah serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel menyasar infrastruktur kelistrikan di negara tersebut.
Pihak otoritas Teheran menyebutkan, serangan yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv—sebagaimana dikutip dari Anadolu Agency—menargetkan sejumlah gardu induk listrik di berbagai lokasi di Iran.
Gangguan pasokan listrik dilaporkan meluas ke beberapa area di Teheran serta wilayah Alborz di bagian utara negara itu. Selain itu, pemadaman juga terjadi di sebagian distrik Karaj yang berada di sebelah barat Teheran.
Wakil Menteri Energi Iran, Mostafa Rajabi Mashhadi, melalui laporan kantor berita Tasnim, menyampaikan bahwa beberapa gardu transmisi listrik terdampak akibat serangan tersebut. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pasokan listrik di Teheran dan Karaj diperkirakan dapat kembali normal dalam beberapa jam dan masyarakat tidak perlu khawatir.
Sementara itu, media pemerintah Iran, IRIB News, yang mengutip Kementerian Energi, melaporkan bahwa upaya pemulihan jaringan listrik terus dilakukan secara bertahap untuk mengembalikan layanan ke kondisi normal.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah sendiri masih tinggi sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan berskala besar terhadap Iran pada 28 Februari. Laporan menyebutkan sedikitnya 1.340 orang tewas akibat rangkaian serangan tersebut di berbagai wilayah, termasuk seorang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban luka di beberapa wilayah. Sedikitnya 13 personel militer AS di kawasan Teluk dilaporkan tewas, sementara lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan balasan Iran.



