Jakarta – Upaya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tidak menghasilkan kesepakatan. Situasi ini memicu sinyal dari Israel yang membuka kemungkinan kembali melakukan serangan terhadap Iran.
Sejumlah pejabat tinggi Israel mulai menyuarakan potensi langkah militer lanjutan. Menteri Energi Israel, Eli Cohen, menyebut bahwa Teheran berisiko menjadi target jika jalur diplomasi tidak membuahkan hasil.
Ia menegaskan bahwa persoalan nuklir Iran merupakan isu global. Cohen juga menilai langkah Presiden AS, Donald Trump, dalam menetapkan batas tegas terkait isu tersebut sebagai sesuatu yang positif.
Menurutnya, kegagalan mencapai kesepakatan dapat membuka jalan bagi opsi serangan terhadap Iran.
Dalam konteks konflik di Lebanon, Cohen juga mendorong pendekatan yang lebih luas. Ia menyarankan agar Israel tidak hanya menyasar kekuatan militer seperti Hizbullah, tetapi juga infrastruktur penting di negara tersebut.
Cohen turut menyampaikan pesimismenya terhadap peluang keberhasilan negosiasi, terutama menjelang rencana pertemuan antara pihak terkait di Washington, D.C. yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat untuk membahas gencatan senjata dan membuka dialog langsung.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Israel, Nir Barkat, menyatakan keyakinannya bahwa AS akan tetap mencapai target dalam menghadapi Iran. Ia menilai bahwa pihak Iran belum sepenuhnya memahami keseriusan sikap Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Barkat bahkan menyebut kemungkinan berlanjutnya konflik demi mencapai tujuan strategis yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miki Zohar, melalui media sosial menyampaikan bahwa ketegasan Washington dalam mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir menunjukkan adanya koordinasi erat dengan Israel. Ia menegaskan kedua negara akan berupaya menghentikan ambisi nuklir Iran.
Sebelumnya, perundingan intensif antara AS dan Iran yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad dengan mediasi Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.
Pasca kegagalan tersebut, AS dikabarkan mempertimbangkan langkah pemblokiran Selat Hormuz, yang berpotensi semakin memperkeruh situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.



