Jakarta – Iran dilaporkan kembali menghentikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz pada Rabu (8/4/2026). Langkah ini dinilai berpotensi merusak kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya dicapai dengan Amerika Serikat (AS).
Mengacu pada laporan Associated Press (AP), keputusan tersebut diambil sebagai reaksi atas serangan militer Israel di wilayah Lebanon. Penutupan jalur strategis ini berdampak langsung pada distribusi energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan rute utama pengiriman minyak dunia.
Hingga kini, otoritas Iran belum memberikan keterangan resmi terkait kebijakan tersebut. Sementara itu, pihak Gedung Putih mendesak agar jalur pelayaran segera dibuka kembali demi menjaga kelangsungan proses diplomasi yang tengah berjalan.
Iran Tuduh AS Langgar Kesepakatan
Meski kedua negara mengklaim berhasil mencapai titik temu, situasi di lapangan masih memanas. Serangan drone dan rudal dilaporkan terus terjadi di Iran maupun kawasan Teluk.
Di sisi lain, Israel meningkatkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon, termasuk menyerang area permukiman dan pusat bisnis di Beirut. Korban jiwa pun terus bertambah. Data terbaru menyebutkan ratusan orang tewas dan lebih dari seribu lainnya mengalami luka-luka.
Pihak Amerika Serikat melalui juru bicara Wakil Presiden JD Vance menyebut kesepakatan gencatan senjata saat ini berada dalam kondisi rapuh.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai rencana dialog lanjutan tidak masuk akal. Ia menuding Washington telah melanggar sejumlah poin penting, termasuk terkait serangan Israel, dugaan pelanggaran wilayah udara Iran, serta penolakan terhadap program pengayaan uranium Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa konflik di Lebanon seharusnya termasuk dalam cakupan gencatan senjata. Namun, pernyataan tersebut bertolak belakang dengan sikap Benjamin Netanyahu dan Donald Trump yang menilai kesepakatan tidak mencakup wilayah Lebanon.
Kontroversi Biaya Transit di Selat Hormuz
Iran juga menyatakan berhak memberlakukan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur yang mengangkut sekitar 20 persen kebutuhan minyak dan gas dunia.
Namun, pemerintah AS menolak kebijakan tersebut. Washington menegaskan tidak akan menerima adanya pungutan bagi kapal internasional yang melintas.
Akibat ketegangan ini, jumlah kapal yang berhasil melintas tetap terbatas. Beberapa operator kapal bahkan dikabarkan harus membayar biaya tambahan hingga 1 dolar AS per barel minyak.
Ancaman Militer Masih Membayangi
Walaupun serangan militer besar-besaran telah dilakukan oleh AS dan Israel, kekhawatiran terhadap program nuklir dan kemampuan rudal Iran belum mereda.
Presiden Donald Trump menyatakan kesiapan AS untuk bekerja sama dengan Iran dalam mengelola uranium yang telah diperkaya, meski belum ada konfirmasi dari pihak Teheran.
Sementara itu, Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, menegaskan pihaknya akan terus memanfaatkan setiap peluang untuk menyerang Hizbullah. Dalam satu gelombang serangan terbaru, lebih dari 100 target dihantam dalam waktu singkat.
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, menuduh Israel terus berupaya menggagalkan kesepakatan damai yang telah dirintis.
Dampak Global dan Syarat Gencatan Senjata
Iran sebelumnya mengajukan sepuluh syarat untuk pelaksanaan gencatan senjata selama dua minggu. Beberapa poin utama meliputi penghentian konflik di berbagai negara kawasan, pencabutan sanksi, pembukaan kembali Selat Hormuz, hingga jaminan keamanan pelayaran internasional.
Selain itu, Iran juga meminta pencairan aset yang dibekukan serta komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir sebagai bagian dari kesepakatan akhir.
Sebelumnya, Iran sempat menjamin akan membuka kembali Selat Hormuz dan menyediakan jalur aman bagi kapal internasional. Namun, eskalasi terbaru akibat serangan Israel di Lebanon membuat situasi kembali memburuk.
Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan memperingatkan akan melakukan balasan jika agresi tidak segera dihentikan.
Ketegangan Baru Ancam Stabilitas Dunia
Penutupan kembali Selat Hormuz berpotensi mengganggu arus perdagangan global, terutama sektor energi. Banyak kapal dagang tertahan, sementara pasar internasional mulai merasakan dampaknya.
Kesepakatan damai yang sebelumnya diharapkan meredakan konflik kini berada di ujung tanduk. Dunia pun menantikan langkah lanjutan dari Iran dan Amerika Serikat dalam menghadapi krisis yang terus berkembang ini.



![[HOAKS] Kabar Indro Warkop Meninggal Dunia Ternyata Tidak Benar [HOAKS] Kabar Indro Warkop Meninggal Dunia Ternyata Tidak Benar](https://afyinfo.com/wp-content/uploads/2026/04/6188ffe5e646d-200x135.jpeg)