Jakarta -Pemerintah Israel menyatakan kesiapannya untuk membuka jalur perundingan langsung dengan Lebanon. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya telah memberi arahan kepada kabinet untuk segera memulai komunikasi resmi dengan pihak Lebanon.
Dalam pernyataan yang dikutip dari AFP pada Jumat (10/4/2026), Netanyahu menyebut langkah ini diambil sebagai respons atas permintaan berulang dari Lebanon yang menginginkan adanya dialog langsung antara kedua negara.
Ia menjelaskan bahwa fokus utama pembicaraan nantinya adalah upaya pelucutan senjata kelompok Hizbullah, sekaligus membuka peluang terciptanya hubungan yang lebih damai antara Israel dan Lebanon. Israel juga menyambut baik seruan dari pemerintah Lebanon terkait demiliterisasi wilayah Beirut.
Sementara itu, pemerintah Lebanon melalui Perdana Menteri Nawaf Salam telah menginstruksikan aparat keamanan untuk memperketat kontrol senjata di ibu kota. Kebijakan ini bertujuan memastikan bahwa kepemilikan senjata hanya berada di bawah otoritas resmi negara.
Arahan tersebut disampaikan setelah rapat kabinet pada Kamis (9/4), di mana militer dan aparat keamanan diminta segera memperkuat kendali negara atas wilayah Beirut, termasuk membatasi penggunaan senjata oleh pihak non-negara.
Sebelumnya, Lebanon juga telah mengeluarkan larangan terhadap aktivitas militer Hizbullah sejak awal Maret, tidak lama setelah konflik dengan Israel kembali memanas. Namun, kebijakan tersebut belum sepenuhnya mampu menghentikan operasi kelompok yang didukung Iran tersebut.
Pemerintah Lebanon sendiri telah berkomitmen sejak 2025 untuk melucuti persenjataan Hizbullah. Kelompok ini merupakan satu-satunya faksi yang masih mempertahankan senjata pasca berakhirnya perang saudara Lebanon pada 1975–1990.
Sebagai catatan, pada Desember lalu, perwakilan sipil dari Lebanon dan Israel sempat melakukan pertemuan langsung pertama dalam beberapa dekade. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari mekanisme pemantauan gencatan senjata yang tengah berlangsung.



