Jakarta – Amerika Serikat bersama Israel disebut melakukan serangan terhadap fasilitas gas utama milik Iran di kawasan South Pars, wilayah Teluk, pada Rabu (18/3).
Media televisi pemerintah Iran, seperti dilaporkan AFP, menyebutkan bahwa sebagian instalasi gas di Zona Ekonomi Khusus Energi South Pars di Asaluyeh terkena hantaman roket yang dikaitkan dengan pihak yang mereka sebut sebagai “aliansi Amerika dan Zionis”.
Wakil Gubernur Bushehr, Ehsan Jahanian, menyampaikan bahwa tim pemadam kebakaran langsung diterjunkan untuk menangani kebakaran akibat serangan tersebut. South Pars sendiri merupakan bagian dari ladang gas raksasa South Pars/North Dome yang dikenal sebagai cadangan gas terbesar di dunia.
Ladang ini memasok sekitar 70 persen kebutuhan gas domestik Iran. Wilayah tersebut juga dikelola bersama dengan Qatar, dengan Iran mulai mengembangkan bagiannya sejak akhir 1990-an.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Israel terkait laporan serangan tersebut. Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, hanya menyatakan bahwa operasi militer negaranya berjalan dalam koordinasi penuh dengan militer AS.
Ia menegaskan bahwa hubungan kerja sama kedua pihak berjalan sangat erat tanpa adanya perbedaan.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeluarkan peringatan keras terkait serangan tersebut. Mereka menilai aksi itu sebagai kesalahan besar dan menegaskan bahwa respons balasan sedang dipersiapkan.
IRGC juga mengancam akan menargetkan infrastruktur energi milik negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk apabila serangan terhadap Iran kembali terjadi. Negara yang disebut antara lain Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Pada hari yang sama, dilaporkan serangan rudal dari Iran menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas gas Ras Laffan di Qatar, yang kemudian memicu kecaman dari negara-negara di kawasan tersebut.
Irak, Oman, dan UEA Kecam Serangan ke Fasilitas Energi Iran
Irak, Oman, serta Uni Emirat Arab (UEA) turut menyampaikan kecaman atas serangan terhadap fasilitas gas South Pars di Iran selatan.
Kementerian Luar Negeri Irak menilai penargetan terhadap infrastruktur vital sebagai bentuk eskalasi yang tidak dapat dibenarkan. Mereka juga menekankan pentingnya menjaga kedaulatan negara serta melindungi fasilitas strategis.
Pandangan serupa disampaikan oleh Uni Emirat Arab. Dalam pernyataan resminya, UEA menyebut serangan terhadap fasilitas energi yang terhubung dengan ladang gas South Pars—yang juga berkaitan dengan ladang North Dome di Qatar—sebagai tindakan berbahaya.
UEA memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi dapat mengancam stabilitas pasokan energi global. Selain itu, dampaknya juga berpotensi merusak lingkungan, membahayakan warga sipil, serta mengganggu keamanan maritim dan fasilitas industri penting.



