Jakarta – Usai diumumkannya gencatan senjata, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa Washington berencana membantu mengurai kepadatan lalu lintas kapal di kawasan strategis Selat Hormuz. Namun, langkah tersebut disebut-sebut lebih bernuansa ekonomi karena Trump secara terbuka mengisyaratkan kemungkinan pengenaan biaya bagi kapal yang melintas, bukan oleh Iran.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Rabu (8/4), Trump menegaskan bahwa kebijakan itu merupakan bagian dari upaya menjaga kelancaran jalur pelayaran internasional yang sangat vital tersebut.
Ia juga menyebut akan ada “banyak langkah positif” yang bisa menghasilkan keuntungan besar. Menurutnya, Iran pun dapat memanfaatkan situasi tersebut untuk memulai proses pemulihan ekonomi.
“Keuntungan besar akan tercipta. Iran dapat memulai proses rekonstruksi,” tulis Trump melalui platform Truth Social.
Trump juga menekankan keyakinannya bahwa pembukaan kembali jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap harinya itu akan berjalan lancar. Ia bahkan menyebut Amerika Serikat siap mengirim berbagai suplai dan tetap berada di kawasan untuk memastikan stabilitas.
“Kami akan mengirim berbagai jenis pasokan dan tetap berada di sekitar untuk memastikan semuanya berjalan lancar,” ujarnya.
Sebelumnya, sebelum kesepakatan gencatan senjata diumumkan, Trump sempat melontarkan ide agar Amerika Serikat mengambil alih pengelolaan Selat Hormuz dan memungut biaya dari setiap kapal yang melintas. Ia bahkan menyinggung kemungkinan tarif transit jika Iran menetapkan biaya bagi kapal asing.
“Bagaimana kalau kita saja yang memungut biaya lintasnya? Saya pikir kita yang melakukannya, bukan mereka,” ucapnya pada Senin (6/4).
Selat Hormuz sendiri hingga kini berada dalam pengaruh Iran sejak meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Wilayah tersebut menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Di sisi lain, militer AS sebelumnya menyatakan belum siap untuk mengawal kapal tanker di kawasan itu karena tingginya risiko serangan di perairan sempit tersebut.
Pernyataan Trump yang semula terkesan memperkeras sikap terkait penguasaan sumber daya energi asing kini dinilai mulai melunak setelah adanya gencatan senjata.
Dalam hukum internasional, sumber daya alam seperti minyak memang berada di bawah kedaulatan masing-masing negara, sebagaimana diatur dalam resolusi Majelis Umum PBB tahun 1962.
Menurut analis BBC, Anthony Zurcher, perubahan sikap Trump dapat menjadi cara untuk menghindari eskalasi konflik yang lebih besar.
“Ini memberi Trump jalan keluar dari situasi berisiko tinggi—antara meningkatkan ketegangan atau mundur dan menghadapi kritik terhadap kredibilitasnya,” ujarnya.
Sementara itu, media Inggris The Guardian menilai bahwa gencatan senjata tersebut memberikan keuntungan politik dan kepuasan jangka pendek bagi Trump.
Negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran disebut akan berlangsung dalam dua minggu ke depan dengan harapan mencapai kesepakatan yang lebih permanen, meski prosesnya diperkirakan tidak mudah.



