Jakarta – Keterbatasan ruang terbuka di kawasan padat penduduk Jakarta membuat sebagian anak-anak mencari tempat bermain di lokasi yang tidak biasa, bahkan di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang sedang tergenang banjir.
Di TPU Semper, Cilincing, Jakarta Utara, banjir yang sudah berlangsung sejak Januari 2026 mengubah kawasan pemakaman tersebut menjadi seperti kolam air luas. Ribuan makam di bagian timur TPU ikut terendam hingga nisan-nisan tidak lagi terlihat jelas, sementara tanaman eceng gondok mulai tumbuh di permukaan air.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah anak tetap terlihat bermain dan berenang di area genangan tersebut. Sekitar sembilan anak tampak berenang, tertawa, bahkan melompat dari pembatas jalan ke area yang lebih rendah di kawasan makam yang tergenang.
Salah satu anak, Juna (9), mengaku tidak merasa takut bermain di lokasi tersebut. Ia bahkan menyebut berenang di sana terasa menyenangkan dan tanpa biaya. Menurutnya, kedalaman air sekitar 1,3 meter atau setinggi dada anak-anak, sehingga mereka masih bisa berenang tanpa alat bantu.
Krisis Ruang Bermain dan Hak Warga
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), AB Widyanta, menilai fenomena ini muncul karena anak-anak tidak memiliki alternatif ruang bermain yang layak. Kondisi lingkungan tempat tinggal yang padat dan rawan banjir membuat mereka terbiasa beradaptasi dengan situasi tersebut.
Ia menilai situasi ini mencerminkan adanya pengabaian terhadap hak-hak dasar warga, termasuk hak anak untuk mendapatkan ruang bermain yang aman. Menurutnya, hal ini menunjukkan perlunya perhatian serius dari pemerintah dalam penyediaan fasilitas publik yang memadai.
Widyanta juga menekankan pentingnya pembangunan yang lebih berpihak pada wilayah rawan bencana agar kebutuhan dasar masyarakat, khususnya anak-anak, tetap terpenuhi.
Anak Belum Sadar Risiko Lingkungan
Selain faktor keterbatasan ruang, anak-anak juga dinilai belum memahami risiko yang ada di lingkungan tempat mereka bermain. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun dalam beberapa kasus masih kurang menyadari bahaya tinggal di kawasan rawan bencana.
Kondisi ini membuat kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia semakin berisiko, terutama terkait kesehatan. Tinggal di daerah yang sering terendam banjir juga menyulitkan akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Menurut Widyanta, persoalan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di banyak wilayah pesisir utara Pulau Jawa yang menghadapi masalah serupa. Kondisi tersebut dinilai tidak ideal bagi perkembangan anak maupun kesehatan masyarakat secara umum.
Perlunya Perencanaan Pembangunan yang Lebih Holistik
Widyanta menekankan bahwa pemerintah perlu melakukan pendekatan menyeluruh dalam menangani wilayah rawan bencana. Selain menyediakan layanan dasar, diperlukan kebijakan pembangunan yang mempertimbangkan risiko jangka panjang.
Salah satu tantangan terbesar adalah pilihan antara melakukan relokasi warga atau meningkatkan kualitas lingkungan di tempat mereka tinggal, terutama di wilayah dengan keterbatasan lahan seperti Jakarta. Upaya tersebut juga membutuhkan biaya besar serta koordinasi lintas pemerintah.
Penataan Ruang Terbuka Hijau
Program pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dijalankan pemerintah daerah juga dinilai perlu lebih tepat sasaran. Penyesuaian terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar dianggap penting agar fasilitas tersebut benar-benar bisa diakses semua kalangan.
Jika tidak memperhitungkan faktor jarak dan biaya, RTH berpotensi sulit dimanfaatkan oleh masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk anak-anak yang justru paling membutuhkan ruang bermain.
Bukan Sekadar Kekurangan Ruang Bermain
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ai Maryati Solihah, berpendapat bahwa fenomena ini tidak bisa dilihat hanya sebagai kurangnya ruang bermain di kota.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan dampak dari persoalan lingkungan yang tidak tertangani secara menyeluruh, sehingga memunculkan dampak sosial yang lebih luas. Anak-anak, kata dia, cenderung memiliki rasa ingin tahu tinggi dan belum mampu menilai risiko secara penuh.
Karena itu, diperlukan kehadiran negara untuk memastikan lingkungan yang aman bagi anak, termasuk dengan penanganan banjir secara serius di TPU Semper melalui koordinasi lintas instansi.
Larangan Saja Tidak Cukup
Ai juga menegaskan bahwa sekadar melarang anak-anak bermain di lokasi berbahaya tidak akan menyelesaikan masalah. Selama akar persoalan seperti banjir belum ditangani, kejadian serupa masih berpotensi terulang.
Ia menilai perlu adanya regulasi yang lebih kuat serta penanganan yang berkelanjutan, mengingat masalah banjir di kawasan tersebut sudah terjadi dalam waktu yang lama. Tanpa solusi menyeluruh, risiko terhadap keselamatan anak-anak akan tetap ada.


![[HOAKS] Kabar Indro Warkop Meninggal Dunia Ternyata Tidak Benar [HOAKS] Kabar Indro Warkop Meninggal Dunia Ternyata Tidak Benar](https://afyinfo.com/wp-content/uploads/2026/04/6188ffe5e646d-200x135.jpeg)
