Jakarta – Upaya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung pada akhir pekan di Pakistan berakhir tanpa hasil. Meski telah melalui pembahasan panjang, kedua pihak tidak berhasil mencapai kesepakatan.
Kegagalan ini dipicu oleh dua persoalan krusial, yaitu terkait program nuklir Iran dan situasi di Selat Hormuz. Kedua isu tersebut menjadi penghambat utama dalam proses negosiasi.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya telah menetapkan sejumlah syarat penting sebagai tolok ukur keberhasilan perundingan. Namun, setelah diskusi berlangsung selama berjam-jam hingga larut malam, pembicaraan menemui jalan buntu pada beberapa poin utama, sebagaimana diungkap sumber yang mengikuti jalannya perundingan.
Dari sudut pandang Washington, sikap Iran yang enggan membuka kembali akses Selat Hormuz serta menolak menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya menjadi kendala besar. Kedua tuntutan ini dianggap tidak bisa ditawar.
Di sisi lain, Iran juga tetap bersikukuh pada tuntutannya agar sanksi ekonomi dicabut dan aset mereka yang dibekukan, bernilai miliaran dolar, segera dicairkan. Karena kedua pihak sama-sama bertahan pada posisi masing-masing, perundingan pun berakhir tanpa kesepakatan.
Sejumlah pejabat menilai perbedaan pendekatan dalam bernegosiasi turut memperburuk situasi. Iran dikenal siap menjalani proses panjang dan rumit demi mencapai hasil, seperti yang pernah terjadi dalam kesepakatan nuklir pada masa pemerintahan Barack Obama yang berlangsung hingga dua tahun.
Sebaliknya, Presiden Amerika Serikat saat ini dinilai kurang menyukai proses yang berlarut-larut. Ia cenderung menginginkan hasil yang cepat dalam setiap negosiasi.
Sebelumnya, Presiden AS sempat menyampaikan harapan untuk bekerja sama dengan Iran dalam mengatasi persoalan nuklir. Namun, pernyataan tersebut tidak banyak memengaruhi sikap Teheran.
Selain isu nuklir, ketegangan di Selat Hormuz turut memperkeruh situasi. Iran sebelumnya menyatakan jalur tersebut tetap terbuka, tetapi belakangan mulai membatasi pergerakan kapal tanker minyak.
Pembatasan ini disebut sebagai respons atas serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Dampaknya, pasar energi global mengalami tekanan, sekaligus menimbulkan tantangan politik bagi pemerintah AS di dalam negeri.
Para negosiator Iran memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz sebagai kekuatan tawar. Mereka menegaskan tidak akan sepenuhnya membuka jalur tersebut sebelum tercapai kesepakatan akhir yang menguntungkan kedua pihak.



