Jakarta – Sebuah fenomena alam yang lama membingungkan para ilmuwan terjadi di Taman Nasional Death Valley, wilayah perbatasan California dan Nevada, Amerika Serikat. Di kawasan gurun tandus tersebut, terdapat batu-batu yang tampak “berjalan” sendiri di permukaan tanah datar.
Mengacu pada informasi dari National Park Foundation, batu-batu ini terlihat berpindah posisi tanpa adanya dorongan langsung atau kemiringan medan yang signifikan. Ukurannya pun beragam, mulai dari yang ringan hingga berbobot ratusan pon. Meski tak ada saksi yang pernah melihat pergerakannya secara langsung, jejak panjang di belakang batu menjadi bukti kuat bahwa mereka benar-benar berpindah tempat.
Penjelasan Ilmiah di Balik Misteri
Setelah menjadi teka-teki selama bertahun-tahun, para ilmuwan akhirnya menemukan jawaban yang masuk akal. Batu-batu yang berada di Racetrack Playa ini tersusun dari dolomit dan syenit—jenis batuan yang sama dengan pegunungan di sekitarnya. Batuan tersebut awalnya jatuh akibat proses erosi, lalu berhenti di permukaan datar yang kering.
Namun yang menarik, batu-batu tersebut kemudian bisa bergerak secara horizontal, meninggalkan jejak panjang di belakangnya. Beberapa di antaranya bahkan tercatat telah berpindah sejauh lebih dari 450 meter. Pola jejaknya juga berbeda-beda: batu dengan bagian bawah kasar cenderung meninggalkan garis lurus, sedangkan yang permukaannya halus bergerak lebih acak.
Fenomena ini sudah diamati sejak awal abad ke-20, dengan berbagai teori bermunculan untuk menjelaskannya. Baru pada tahun 2014, para peneliti berhasil merekam langsung pergerakan batu tersebut melalui teknik fotografi time-lapse.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergerakan ini terjadi karena kombinasi kondisi alam yang sangat spesifik. Saat musim dingin, air hujan membentuk genangan yang kemudian membeku di malam hari. Es tipis yang terbentuk akan mencair di siang hari, menyisakan lapisan sangat tipis di permukaan.
Ketika angin bertiup, lapisan es tersebut pecah dan terdorong, menumpuk di belakang batu. Tekanan dari pecahan es inilah yang secara perlahan mendorong batu bergerak di atas permukaan lumpur basah, menciptakan jejak panjang yang terlihat jelas.



